Oleh : Rudi Hartono



“Saya menyakini bahwa musik merupakan cara mengorganisir yang cepat. Orang bisa memahami pesan kita lewat nada-nada,” kata Rizal Abdulhadi sambil memetik pelan senar gitarnya.

Siang itu, di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas, Ijal, sapaan Rizal Abdulhadi, sedang mencari nada yang pas untuk lagu barunya. Berbagai jenis alat musik tradisional pun berderet mengelilingi ruang itu.

“Ini saya kumpulkan setiap manggung di daerah-daerah. Kita kaya loh sebenarnya dengan jenis musik tradisional,” katanya mencoba menyakinkan saya.

Rizal jatuh cinta kepada musik sejak kelas 4 Sekolah Dasar di kampungnya, Majalengka, sebuah kota kecil di Jawa Barat. Rizal sendiri masih tergolong masih sangat muda, 22 tahun, tetapi dia berani menekuni musik balada. Padahal, kata orang-orang, musik balada itu kurang digandrungi anak muda. Maklum, selera anak muda sekarang diatur oleh pasar.



Memilih musik balada

Sebelum memilih membenamkan diri dalam musisi balada, Rijal sempat gonta-ganti band dan aliran musik. Bermula dengan musik punk, kemudian musik metal, dan terakhir musik hip-hop.

“Saya sulit membentuk band, karena kadang anak-anak tidak kompak. Ide besar saya juga sulit ditampung oleh kolektif,” kenang Rijal ketika menceritakan dirinya jatuh-bangun membangun band.

Rijal juga sempat tertarik dengan puisi. sayang sekali, karena minim panggung, Rijal memilih untuk hengkang. “Jiwa saya tidak bisa dipisahkan dengan panggung dan massa,” katanya.

Suatu hari, di tahun 2006, ketika dirinya menjadi aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), ia menyadari bahwa musik merupakan sarana penyampaian pesan yang paling efektif.

Ia kemudian memilih musik balada, yang katanya, bisa diterima oleh semua umur, kelas, dan sektor sosial. “Saya pernah membawa musik punk,” kenangnya, “tetapi kadang kurang “srek” dengan pendengar di desa-desa.”



Dari Mukti-Mukti Hingga Victor Jara

Menjadi musisi balada bukan perkara gampang. Disamping dibutuhkan skill pribadi yang tinggi, diperlukan juga karakter pribadi yang kuat. “Dengan menjadi seorang baladis, saya bisa mengolah seluruh potensi yang kumiliki” katanya.

Tidak tanggung-tanggung, sejak 2006 hingga sekarang ini, Rijal telah melahirkan kurang lebih 50 lagu, tetapi baru beberapa saja yang sudah dialbumkan. Rizal punya prinsip berkarya, “kapan saja dan dimana saja, ketika saya bertemu inspirasi atau fenomena, maka itu harus menjadi lagu.”

Ketika pertama-kali bermain balada, ia mengaku sangat terpengaruh oleh sosok Mukti-Mukti, musisi kerakyatan asal Bandung, dan juga Ary Juliyant, baladis asal kota Bandung juga.

Ketika ia baru pindah ke Jakarta dan bersentuhan dengan banyak aktivis pergerakan, Rijal menjadi tahu mengenai musik perlawanan. Ia pun mulai membuka lembar demi lembar cerita mengenai Victor Jara, musisi revolusioner Chile yang meninggal setelah dieksekusi rejim Agusto Pinochet di stadion Santiago.

Bukan hanya Victor Jara, ia juga jatuh hati kepada kehebatan musisi revolusioner asal Kuba, Silvio Rodriguez, yang pemain balada juga. Pada setiap kesempatan, ia sering melantunkan lagu “Ojala”-nya Silvio Rodriguez.

“Kedua orang itu memberi terang kepada saya, bahwa bermusik tidak bisa dilepaskan dari perjuangan rakyat,” tegasnya.



Dari Panggung Ke Panggung Dan Gerilya Kota

“Musik gerilya,” itulah konsep yang dipijakinya untuk bermain musik dan sekaligus berjuang. Dengan melakukan gerilya, bukan menunggu orderan, Rijal bermaksud menyampaikan pesan secara luas.

Ia faham betul dengan perkataan seorang penulis lagu progressif Amerika, Joe Hill, yang berkata: “Anda akan membaca famplet hanya sekali, tetapi anda akan mendengar musik berulang-kali.” Pesannya sangat jelas: musik harus menjadi alat penyadaran bagi kaum tertindas.

Rizal tidak pernah lupa kenangan ketika ia konser di sebuah desa, Sukamulya namanya, terletak di Lombok Timur, NTB. Di sana, di hadapan para petani dan pemuda desa, Ia melantunkan lagu-lagu perjuangan. “Saya melihat air mata sebagian penonton tumpah saat itu. Mereka sangat tergugah oleh lagu saya,” katanya.

Dengan berpegang teguh pada slogan “semua tempat adalah panggung”, Rizal pun sudah mengantongi pengalaman konser di atas kapal feri, kereta api, pasar, pabrik, sekolah-sekolah, dan pesawat.

Dia pun sudah melanglang buana bukan saja dari kota ke kota, tetapi juga dari pulau ke pulau. Sekarang, karena perannya sebagai pengurus pusat Jaker di Jakarta, Ia pun melakukan “gerilya kota”.



Musik adalah terompet perlawanan

“Tidak ada Revolusi tanpa lagu-lagu,” demikian bunyi spanduk yang terpampang saat kampanye Salvador Allende, presiden kiri yang juga kawan seperjuangan Victor Jara. Kata-kata itu sangat melekat dalam hati dan fikiran Rizal.

Hampir semua karya-karyanya berbicara mengenai penderitaan rakyat, kekaguman pada keberanian para pejuang, dan seruan untuk melakukan perlawanan.

Seperti lagu “Mari Menari Petani”, berusaha mengajak petani yang tertindas untuk sejenak menari dan berbagia. Lagu ini juga didedikasikan kepada tiga petani di Treng Wilis, Montong Gading, Nusa Tenggara Barat, yang tewas tertembak peluru aparat kepolisian.

Juga lagu “Pelanjut Angkatan”, yang diambil dari puisi penyair sosialis Belanda, Henriette Roland Holst. Lagu ini didedikasikan untuk pejuang yang sudah meninggal dan juga kepada para generasi baru, yaitu para pelanjut angkatan.

Ketika sejumlah aktivis gerakan dipenjara di Bau-Bau, Ia segera menulis lagu berjudul “di balik jendela” dan didedikasikan kepada para aktivis tersebut. Dari sekitar 50 lagu hasil karyanya, hampir sebagian besarnya mengambil tema perjuangan dan perlawanan.



http://berdikarionline.com/kabar-rakyat/20110206/rizal-abdulhadi-bermusik-sambil-propaganda.html
 
Sebagai bentuk simpati terhadap korban bencana alam, terutama di Wasior, Mentawai, dan Merapi (Jogjakarta), Rizal Abdulhadi menggelar konser pembebasan yang disebut “gerilya Jakarta II”.


Selain itu, konser pembebasan ini ditujukan untuk merespon peringatan hari pahlawan nasional, tanggal 10 November, dan mengobarkan kembali semangat melawan penjajahan baru (rekolonialisme).


Kepada para pendengar, Rizal Abdulhadi mengatakan bahwa sebagian besar lagu-lagunya terinspirasi massa rakyat, seperti petani dan buruh, dan mendedikasikannya untuk perjuangan pembebasan mereka.


Saat tampil semalam, Rizal Abdulhadi berduet dengan pemain biola berbakat, Read violin, dalam melantunkan tiga awal di bagian pembukaan acara.


Selain itu, ada pula pembacaan puisi perjuangan oleh Roso Suroso, sekjend Jaker, yang membacakan puisi “Subagon” dan “Melawan lupa”.


Ada pula pembacaan puisi yang sangat menggetarkan dari Wien Krista, yang membacakan beberapa puisi dari Taufik Ismail.


Pembaca puisi ketiga adalah sastrawan dari Riau, Rinaldi Sutan Sati, yang tampil sangat memukau dengan tiga puisinya.

Dalam penampilan semalam, Rizal Abdulhadi membawakan puluhan lagu-lagu perjuangan, diantaranya, “Inilah Aku”, “Mari menari petani”, “pelanjut angkatan”, “Dalam Tubuh Pertiwi”, dan “Bangkitlah para pahlawan”.


Kerakyatan

Sebagai baladis, Rizal sangat memahami bahwa karya-karya merupakan mulut yang berbicara untuk menyuarakan penderitaan rakyat dan berbagai persoalan bangsa.


Seperti lagu “Mari menari petani,” menurut Rizal didedikasikan untuk perjuangan para petani di Treng Wilis, Desa Perian, Lombok Timur.


Begitu pula lagu “Pelanjut Angkatan”, yang merupakan musikalisasi dari puisi Henriette Roland Holst yang tertulis di nisan Ali Archam, menceritakan keharusan kaum muda untuk melanjutkan perjuangan para generasi pejuang di masa lalu.


Demikian pula dengan lagu “Di Balik Jendela”, yang katanya peruntukkan untuk para aktivis gerakan rakyat yang ditahan di penjara Bau-bau, Sulawesi tenggara.



http://berdikarionline.com/kabar-rakyat/20101111/konser-pembebasan-rizal-abdulhadi.html



 
Bulan Desember 1962, rombongan seniman yang sedianya mengikuti konferensi di Bali singgah di Banyuwangi, Jawa Timur, dan mendapat sambutan hangat dari pengurus Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) setempat. Saat itu, seperti biasanya penghormatan terhadap tamu, seniman banyuwangi yang digawangi Muhammad Arief mempersembahkan pertunjukan musik dan tarian.

Nyoto, salah satu pimpinan Lekra dan juga PKI yang hadir di situ, tiba-tiba terpikat dengan sebuah lagu rakyat. Ya, itu lagu “genjer-genjer”. Lagu rakyat yang digubah oleh Muhamad Arief, ketua Lekra Banyuwangi, begitu memikat sang penulis pidato bung karno itu. “Lagu Genjer-genjer akan terkenal secara luas dan menjadi lagu nasional,” kata Nyoto seolah meramalkan.

Belakangan, apa yang diucapkan Nyoto itu terbukti adanya. Lagu “genjer-genjer” mulai mengalun melalui RRI dan TVRI, dan dinyanyikan oleh penyanyi tenar kala itu, Bing Slamet. Lagu ini juga sering dihadirkan oleh paduan suara untuk acara-acara tertentu, bahkan pernah dipersembahkan untuk menyambut tamu-tamu Konferensi Asia-Afrika, pertemuan negeri-negeri anti-imperialis itu. Paduan suara gembira, nama grup paduan suara itu.

Lilis Suryani, penyanyi sangat ngetop di era tahun 1960, turut menyanyikan dan mempopulerkan lagu “genjer-genjer”. Begitulah, lagu genjer-genjer menjadi populer dan semakin meluas seiring dengan situasi politik saat itu.

Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer Oleh satenong mungkur sedot sing toleh-toleh Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

Genjer-genjer esuk-esuk didol neng pasar Genjer-genjer esuk-esuk didol neng pasar Dijejer-jejer diuntingi podo didasar Dijejer-jejer diuntingi podo didasar Ema’e jebeng podo tuku gowo welasar Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Di penghujung 1965, situasi politik mulai berubah, akibat pemerintahan Bung Karno mulai digoyang oleh sayap kanan. Lagu “genjer-genjer” pun terkena imbas politik, sebab diasosiasikan dengan PKI. Pihak militer mengembangkan sebuah cerita bohong, bahwa relawan komunis menyanyikan lagu ini sebelum menyiksa para jenderal-jenderal di lubang buaya.

Segera setelah itu, lagu genjer-genjer menghilang seiring dengan pembantaian keji terhadap jutaan rakyat Indonesia, termasuk pencipta lagu ini, M. Arief. Lagu ini tidak boleh dinyanyikan di masa rejim Soeharto. Kalau ada yang menyanyikannya, maka dia akan segera berurusan dengan tentara.

Paska kejatuhan rejim Soeharto, lagu genjer-genjer mulai dinyayikan kembali dan mendapat tempat di hati sebagian seniman. Sebuah film tentang “Gie” juga menjadikan lagu ini sebagai “sound-track”-nya.

Meski begitu, alam reformasi ini ternyata belum membuat lagu genjer-genjer bebas untuk diperdengarkan. Di Surakarta, pada tahun 2009, sebuah stasiun radio setempat sempat didatangi oleh sekelompok milisi, hanya karena memperdengarkan lagu ini melalui ‘sound-track’ film Gie.

Di kalangan seniman pun mulai berani menyanyikan lagu ini. Sebut saja “Tika and the dissident”, Jawaika (reggae), Alex Band (Pop), Rizal Abdulhadi (ballad folk), Remen Ngunjuk, dan ’Pitoelas Big Band’.

Jawaika, grup reggae asal Malang, konon pernah dilarang tampil di kampus karena menyanyikan lagu genjer-genjer ini. Namun, dengan ramuan reggae, jamaika membuat lagu genjer-genjer tetap menarik bagi anak muda.

Begitu pula dengan Tika, penyanyi dengan talenta dan suara bagus, begitu apik menyanyikan lagu genjer-genjer. Sebuah videonya di Youtube saat menyanyikan lagu genjer-genjer, ditonton hampir 16.000 pengunjung.

Sementara Rizal Abdulhadi dengan sentuhan ballad folknya, membuat lagu genjer-genjer sangat enak di dengar di telinga dan membawa kita pada penderitaan rakyat di masa penjajahan Jepang.

Di dunia maya, khususnya youtube, Myspace, Friendster, dan Facebook, banyak kaum muda yang menyebarkan lagu ini secara sukarela.

Pada bulan Juli lalu, teater payung hitam juga sukses membuat tepuk tangan para penonton bergemuruh tatkala mementaskan kisah “genjer-genjer” di Gedung Kesenian Dewi Asri Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Bandung, Jawa Barat.

Begitulah, lagu genjer-genjer berusaha dihilangkan dari bumi nusantara, tetapi malah semakin populer dan tersimpan di hati rakyat.



http://berdikarionline.com/suluh/20101009/genjer-genjer-lagu-rakyat-yang-populer-hingga-kini.html
 
Selasa, 24 Agustus 2010

JAKARTA: Penyanyi baladis muda Rizal Abdulhadi menyakinkan bahwa dirinya akan berjuang untuk mengibarkan kembali bendera “Folk” dalam jagad musik Indonesia.

Demikian disampaikan Rizal Abdulhadi saat melaunching album barunya di Newseum, Jakarta, Selasa (24/8). Melalui album baru ini, Rizal Abdulhadi mengankat 5 lagu, antara lain, “Inilah aku”, “Bung Desa”, “Mari Menari Petani”, “Tertidur Nyenya”, dan “Di Balik Jendela”.

Di bagian pembuka acara, Rizal Abdulhadi tampil memukau dengan menyanyikan dua lagu, dan ditemani irama flute dari A. Vincent dan violin oleh Read Violin.

Launching ini juga ditandai dengan diskusi yang menghadirkan tiga orang komentator, yaitu pengamat musik Denny Sakrie, musisi reggae Ras Muhamad, dan musisi folk Deu Galih.

Menurut Denny Sakrie, kehadiran Rizal Abdulhadi merupakan fenomena langka dalam kancah musik Indonesia yang sedang didominasi oleh warna musik yang seragam, karena berusaha keras untuk menampilkan jenis dan bentuk yang berbeda, orisinil, dan berbau kritik sosial.

“Ada banyak musik yang sangat bagus dan berkualitas, namun diabaikan oleh musik mainstream,” ujarnya.

Terkait perjuangan Rizal Abdulhadi dalam mengibarkan kembali bendera folk sendirian, Denny mengingatkan, bahwa musisi seperti Leo Kristie pun pernah melakukan kesulitan yang serupa, dimana ia mengibarkan musiknya yang nasionalistis dari pinggiran menjadi diakui banyak orang.

Sementara itu, Deu Galih, musisi folk asal Bandung, mengingatkan bahwa musisi merupakan ekspresi kebebasan dari seseorang.

Terakhir, musisi reggae Ras Muhamad menyambut baik pemunculan album baru Rizal Abdulhadi sebagai seorang musisi yang kritis dan kerakyatan. Bagi Ras Muhamad, sang duta reggae Indonesia ini, musik Rizal punya kekuatan dari segi lirik-liriknya yang mengangkat realitas atau kenyataan di masyarakat kita.

“Balada punya lirik yang sangat kuat, dengan ejaan yang sesuai dengan bahasa Indonesia. Tidak nyeleneh seperti kebanyakan lirik lagu mainstream. Karena itu, kita harus mendukung Rizal membangkitkan kembali lagu balada ini,” katanya.

Indonesia pernah punya nama-nama besar dalam musik balada, antara lain, Franky Sahilatua, Harry Roesli, dan Iwan Fals. Diharapkan, melalui kemunculan Rizal Abdulhadi, dengan cara mewarnainya tersendiri, akan sanggup mengibarkan kembali musik folk Indonesia yang lebih kreatif, orisinil, dan memihak rakyat. (Ulf)

http://berdikarionline.com/suluh/20100824/launching-album-baru-rizal-abdulhadi-siap-kibarkan-kembali-bendera-musik-folk-indonesia.html
 
Musisi muda yang lahir di Majalengka, Jawa Barat tahun 1988 ini memilih musik folk balada sebagai genre warna musiknya setelah bermacam macam genre musik ia tekuni, mulai dari pop, rock, punk, hiphop bahkan metal sekalipun.

Menurut dia dengan genre folk ballad ini dia berharap karya nya bisa lebih mudah di akses oleh semua golongan dan bisa di nikmati sepanjang jaman karna isi dari lagu nya bermuatan sosial mengarah pada perubahan sosial seperti apa yang di cita citakanya dengan balutan sastra yang kental dalam lirik untuk memperindah pengkaryaan nya.

Dalam dunia musik Rizal Abdulhadi memandang bahwa musik harus mengabdi pada revolusi yang belum selesai seperti apa yang dia ilhami dari perkataan presiden pertama Ir. Soekarno ’ ...sebab revolusi indonesia adalah revolusi rakjat, revolusi massa, sedang musik harus di jadikan alat untuk mengabdi pada revolusi. Prinsip musik untuk revolusi ini harus disadari sepenuhnya oleh setiap seniman seniwati musik indonesia yang sadar...’

Di akhir tahun 2006 Rizal Abdulhadi memilih bernyanyi solo sambil memainkan gitar dan harmonika. Tidak hanya itu, kadang di beberepa pertunjukan dia memainkan apapun yang ada disekitarnya dipadukan dengan vokal khas nya, termasuk alat dapur sekalipun.

Kecintaannya terhadap seni tradisi terlihat jelas dalam beberapa konser yang dilakoninya yang tidak meninggalkan alat musik etnis nusantara. Dia piawai memainkan suling, kendang, karinding, genggong, saluang, celempung, awi go’ong, dan lainnya.

”Tujuan saya memadukan instrumen etnis merupakan upaya mempertahankan budaya tradisi yang semakin memudar dan menunjukan pada orang luar bahwa musik tradisi indonesia tak kalah hebatnya,” katanya suatu hari.

Akhir 2007 sembilan lagu dalam album indie label yang ditelurkannya cukup menarik perhatian. Pertunjukan dari panggung ke panggung mulai ramai, dan pada akhir 2008 akhir album keduanya berhasil disebar, walau hanya di kalangan sendiri.

Tidak maksimalnya sebaran album kedua itu lantaran saat itu pemusik yang super kreatif ini sibuk dengan konser gerilya-nya yang betajuk ’Konser Pembebasan’ desa ke desa di Jawa Barat. Memasuki 2009 konser gerilya-nya meluas hingga seluruh Jawa, Bali hingga Lombok.

Ibarat menanam padi, Rizal-pun memanennya. Serangkaian event besar mulai mengajak Rizal turut mengisi acara, salahsatunya di Bambu Nusantara World Music Festival 2, 3 dan 4, Braga Festival Bandung, Redneck 3 dan 4 di Bandung, Konser Hari Musik Balada Internasional dan lainnya bahkan di tahun 2008 bersama grupnya, dia menjawarai ’Festival Musik Kolaborasi Etnik Kontemporer’ di Garut mewakili Kabupaten Majalengka.

Selain aktif membangun komunitas-komunitas kesenian dan kebudayaan di kampungnya sendiri dan beberapa daerah lain, dia juga aktif dalam organisasi kerakyatan. Ketika kuliah dia menjadi aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) dan hingga sekarang bersama Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Di pertengahan 2009 sampai sekarang dia menetap di ibu kota untuk memperluas jaringan musik nya dan tuntutan bermusik secara nasional dengan harus mulai menggarap album secara serius dengan distribusi berskala nasional dan internasional.

Inspirasi dan kultur hiruk pikuk metropolitan pun menambah kekayaan genre musik rizal abdulhadi dengan mulai mengacak dan mencomot comot genre lain untuk di kolaborasikan dengan musik folk khas nya, semisal mulai memadukan unsur electronic, blues, jazz, reggae dan lainnya.

Dan di tahun ini Rizal Abdulhadi mengeluarkan mini album yang berisi 5 lagu yang di launching di newseum indonesia pada akhir agustus kemarin. Mini album ini sebagai awal sebelum full albumnya di luncurkan yang rencana nya pada akhir tahun 2010 ini di jakarta.

Organisasi / sanggar yang pernah di ikuti dan di buat nya:
- Sanggar Sastra untuk haur koneng – tahun 2003
- Sanggar Panggung Pembebasan – 2004
- Sanggar Hujan Keruh – 2005
- Ganesha Pecinta Alam (GANAPALA) – 2003
- Remaja Seni Ganesha – 2003
- Jatiwangi Art Factory – 2006
- Konser Kampung – 2007
- The Mystical Earth – 2008
- The Barudak Sayah (digital Art) – 2007
- Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) jawa barat– 2006
- Jaringan Kerja kebudayaan rakyat (JAKER) bandung – 2007
- Partai Persatuan Pembebasan Nasional (PAPERNAS) – 2007
- Majalengka Center – 2008
- Balada bandung – 2009
- Konser Pembebasan – 2009
- Gerakan Musik Indie – 2009
- Posse the exhibition room – 2009
- Gandrung Percussion – 2009
- Teater TeMA – 2009
- Ngawangangkong di bale bengong – 2009
- Majalengka Culture Center – 2010
- Kandang konser – 2010
- Folklub – 2010
- Pengurus Pusat JAKER – 2009 hingga sekarang

Rizal Abdulhadi
www.myspace.com/lagurizalabdulhadi
www.rizalabdulhadi.multiply.com